Bahasa Politik dan Agama di Media Sosial

Isu agama dan politik semakin menjadi mencuat di media sosial manakala ada kecenderungan dari kelompok tertentu yang menginginkan bahwa aspirasi politik, dalam beragam bentuknya, menjadikan agama sebagai mediasi, melalui bahasa-bahasa populer dan mudah dimengerti oleh mereka yang bahkan tak memiliki kepentingan apapun terhadap kelompok itu.

Islam sejauh ini menjadi agama yang paling banyak disorot di permukaan. Sebagai agama yang dahulu hanya menjadi fenomena pinggiran, dalam lingkup masyarakat yang luas, seakan sudah sama sekali berbeda. Kita tak menginginkan bahwa Islam menjadi agama yang disudutkan, tapi kenyataannya hanya Islam saja –sebagai kelompok–yang mewarnai percaturan politik dalam segala hal; agama lain tampak hanya sebagai penonton semata, dan sedikit menarik diri dari popularitasnya di ruang publik.

Peran media sosial semakin penting seiring meningkatnya pengguna internet di Indonesia. Ada sederet contoh yang bisa diajukan untuk melihat bagaimana platform ini memberdayakan warga, termasuk menunjukkan antusiasme dalam partisipasi politik. Namun, ia juga menjadi ruang paling efektif untuk penyebaran berita palsu dan hoaks yang mendominasi lanskap politik Indonesia beberapa waktu belakangan.

Ironisnya, dalam lanskap politik semacam itu, partai politik belum secara serius menggunakan media sosial sebagai platform yang bisa menyebarkan gagasan-gagasannya.

Bagaimana kita menanggapi isu bahasa politik dan bahasa agama di media sosial?
Isu pembahasan politik sangat erat dengan pencemaran nama baik, kampanye terselubung untuk menjatuhkan lawan dan menjunjung diri sendiri. Politik sangat erat dengan yang dinamakan pengguna bayaran dari penjual follower, ngiklan dan sebagainya.
Isu bahasa agama ini lebih kepada bagaimana menjatuhkan ulama atau agama yang lain dengan cara memberikan suatu komentar, foto atau video dengan menjatuhkan lawan atau tujuan dari alur bisnis awal.

MNF/ittelkom